https://www.pjsriau.com

Berita > Olahraga >

Langkah Gadis Kecil dari Dumai Menembus Batas di Lapangan Hijau Persekat

Langkah Gadis Kecil dari Dumai Menembus Batas di Lapangan Hijau Persekat

📸 Afiqa Ayesha Adriana, talenta muda SSB Persekat Dumai, mengenakan jersey nomor 17 musim “New Era 2025”, mencerminkan semangat pesepak bola perempuan yang berani menembus batas.


Dumai, Pjsriau.com - Riuh sorak dan derap langkah di lapangan Festival Sepakbola U-10 WGrup Championship, Sabtu (2/5), seketika terasa berbeda ketika seorang anak perempuan kecil berdiri di antara para pemain. Di tengah dominasi anak laki-laki, kehadirannya bukan sekadar pelengkap, melainkan pernyataan sunyi tentang keberanian dan mimpi yang tak mengenal batas.

Ia adalah Afiqa Ayesha Adriana, pelajar berusia 7,5 tahun yang tampil bersama SSB Persekat. Meski usianya berada di bawah kategori turnamen, Afiqa melangkah tanpa ragu, menantang batas yang selama ini membingkai sepak bola sebagai ruang maskulin.

Selama ini, sepak bola kerap diasosiasikan dengan kekuatan fisik dan daya tahan atribut yang lebih dulu dilekatkan pada laki-laki. Namun di lapangan, Afiqa menghadirkan makna lain, keberanian, ketekunan, dan kecintaan pada permainan yang tampak dalam setiap geraknya.

Bersama rekan-rekan setim berusia 8 hingga 10 tahun, ia berbaur tanpa sekat. Ia berlari mengejar bola, menggiring dengan lincah, dan terlibat dalam perebutan ruang dengan determinasi yang sama. Tidak ada keraguan, hanya keinginan untuk terus bermain dan berkembang.

Hasil akhir turnamen mungkin belum berpihak pada Persekat, namun semangat yang ditunjukkan para pemain menjadi capaian tersendiri. Bagi sang pelatih, keberanian dan kegembiraan bermain jauh lebih bernilai daripada sekadar angka di papan skor terlebih bagi Afiqa, yang tak hanya menghadapi lawan di lapangan, tetapi juga stigma yang mengikutinya.

Di Dumai, Afiqa termasuk sedikit anak perempuan yang memilih sepak bola sebagai jalan. Ketika banyak anak seusianya mengikuti pilihan yang lebih lazim, ia justru menemukan ruangnya di antara latihan, strategi, dan kompetisi.

Kini, ia dikenal sebagai satu-satunya bidadari lapangan hijau di SSB Persekat. Kiprahnya terus berlanjut; selain tampil di U-10, Afiqa juga berlaga di Liga Bocil U-8 dan telah menjalani dua pertandingan. Konsistensinya menjadikannya sorotan sekaligus inspirasi.

Kisah Afiqa menegaskan satu hal sederhana: bakat dan keberanian tidak pernah ditentukan oleh jenis kelamin. Lapangan hijau selalu terbuka bagi siapa saja yang berani melangkah.

Di usia yang masih sangat muda, Afiqa telah menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar soal fisik, melainkan tentang keberanian untuk bermimpi. Dari langkah kecilnya hari ini, terbentang harapan bahwa suatu saat, ia dapat menjadi bagian dari lahirnya generasi baru pesepak bola perempuan Indonesia yang menginspirasi dunia.**


Komentar Via Facebook :