Berita > Peristiwa >

Tegas! Akibat Korban Jiwa di Inhu, Mardianto: Mau Mendukung Atau Menumbangkan? Anggota DPR Harus Mewakili Semua lini

Tegas! Akibat Korban Jiwa di Inhu, Mardianto: Mau Mendukung Atau Menumbangkan? Anggota DPR Harus Mewakili Semua lini

Anggota Komisi I DPRD Provinsi Riau, Dr. H. Mardianto Manan, MT dan jalandibeberapa wilayah di Indragiri Hulu (Inhu) yang mengalami kerusakan parah akibat kendaraan tonase besar.


Pekanbaru, Pjsriau.com - Anggota Komisi I DPRD Provinsi Riau, Dr. H. Mardianto Manan, MT menanggapi kondisi jalan dibeberapa wilayah di Indragiri Hulu (Inhu) yang mengalami kerusakan parah akibat kendaraan tonase besar yang lalu lalang disana hingga mengakibatkan korban jiwa.

Wawancara via WhatsApp ke pjsriau.com, Mardianto menyampaikan bahwa masyarakat di Inhu saat ini sangat membutuhkan kehadiran negara dalam menghadapi persoalan ini. 

"Masyarakat sudah memekik meminta pertolongan bahkan menangis hingga berdarah-darah semua malah diam membisu, namun negara tak juga kunjung hadir," katanya, Jumat (22/6/2024).

Mardianto menyebutkan bahwa pemerintah dari segala lini harus mau mendampingi masyarkat yang sudah resah terkait kondisi jalan yang semakin rusak bahkan sudah merenggut korban jiwa. 

"Sekarang persoalannya ini mau atau tidak hadir mendampingi masyarakat, jika pemerintah ingin hadir bisa melalui dinas PUPR provinsi hingga DPR, sampai ke pihak kepolisian, gubernur dan bawahannya, maka ini akan bisa selesai," lanjutnya.

Ia mengatakan bahwa Komisi I berfokus kepada hukum dan pemerintahan sedangkan terkait infrastuktur dikaji oleh Komisi IV, namun sebagai anggota dewan harus mewakili semua lini. 

"Saat ini kita mau mendukung gerakan atau justru menumbangkan gerakan, saya ingin kita semua tegakkan hukum yang ada," katanya.

Selanjutnya, Mardianto menjelaskan bahwa semua jalan ada undang-undangnya, mana yang boleh dilewati dan mana yang tidak boleh dilewati mobil-mobil angkutan perusahaan.

"Semua ada aturannya, contohnya jalan provinsi boleh dilewati dengan beban 8 ton Muatan Sumbu Terberat (MST), jadi jika melebihi itu harus ditindak, hukumannya ada di undang-undang sampai pergub terkait tonase kendaraan ini," jelasnya.

Dalam hal ini, Mardianto menegaskan bahwa semua perusahaan yang ada di Riau terutama Inhu harus memperhatikan AMDAL (Analisis Dampak lingkungan) hingga RPL (Rencana Kelola Lingkungan) yang telah diatur oleh Pemerintah karena akan berdampak ke masyarakat.

"Setiap perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut harus memperhatikan itu. Contohnya batubara, mulai dari penggaliannya, pabriknya, hingga tempat kendaraan lalu lalang perusahaan itu semua diatur polanya, merusak lingkungan atau tidak, semua diatur mulai masalah tonase, masalah debu, kerusakan jalan, polusi. Jika itu tidak diperhatikan maka hukum akan berlaku dan ditindak," tegas Mardianto.

Terkait maraknya perusahaan yang masih bisa bebas melewati jalan yang seharusnya tidak boleh dilewati, Mardianto beranggapan ada dalang atau oknum-oknum yang bermain dalam kasus ini.

"Kita akan cari dalangnya, apakah ada oknum penegak hukum yang terlibat. Apakah ada penegak hukum yang menumbangkan peraturan itu tadi. Mari kita lawan oknum - oknum yang mendukung kegiatan-kegiatan yang merusak lingkungan ini, awas terhadap oknum-oknum yang terkait," ungkapnya melanjutkan.

Kemudian, ia menyatakan bahwa masyarakat masih sopan dan santun dalam menindak kasus ini, ia berharap bahwa semua permasalahan ini harus segara diatasi karena dikhawatirkan akan menimbulkan konflik baru.

"jika ini dibiarkan akan ada keributan. Jangan kita beternak konflik, semua akan kena. Padahal ini ulah oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab tadi, harus segera diperbaiki," katanya.

Dia juga menyatakan bahwa sudah melakukan berbagai cara untuk meninjau kasus ini, namum belum ada hasilnya. Oleh karena itu ia mengajak FPAN dan penegak hukum untuk memproses masalah ini bersama-sama.

"Kita sudah mencoba berdialog, meninjau hingga menyusuri jalan yang rusak ini, mari kita tuntaskan semua, kita harus rawat jalan. Jangan tunggu korban lagi," tandas Mardianto.

Sebelumnya, Seorang warga Desa Kuala Muliaya RT 02 RW 01 Kecamatan Kualacinaku Kabupaten Indragiri Hulu Riau menjadi korban kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada Sabtu (15/6/2024) lalu di Jalan Lintas Rengat Tembilahan Desa Sungai Raya Kecamatan Rengat.

Korban diketahui bernama Ramli (59) yang berprofesi sebagai petani. Kecelakaan diketahui karena korban ditabrak pengangkut batu bara saat memasuki jalan lurus yang datang dari arah bersamaan.

Usai kejadian nahas yang menimpa salah satu warga itu, kondisi jalan di daerah Inhu memang terus menjadi sorotan karena berlubang dan hancur di sebagian wilayah. 

Fadri Hendra, Pengurus Forum Penyelamat Aset Negara (FPAN) 4 Kabupaten dan Provinsi mengungkapkan bahwa kondisi jalan di Kabupaten Inhu memang memprihatinkan.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah tidak fokus menangani masalah tersebut, sehingga sangat membahayakan pengguna jalan.

“Jalan lintas provinsi hancur dijadikan jalan produksi tambang, itu sangat membahayakan pengguna jalan mulai dari debu hingga terjadi lakalantas,” ujar Fadri kepada redaksi satuju.com dan sekaligus mengirimkan video kejadian kecelakaan melalui WhatsApp, Selasa (18/6/2024).


Komentar Via Facebook :