https://www.pjsriau.com

Berita > Pendidikan >

Artikel

Strategi Peningkatan PAD Bengkalis Lewat Pariwisata Berbasis UMKM

Strategi Peningkatan PAD Bengkalis Lewat Pariwisata Berbasis UMKM

Oleh: Saliza Resti (247122053) Program Studi Magister Ilmu Administrasi, Program Pascasarjana Universitas Islam Riau, Pekanbaru – 2025


Pekanbaru, Pjsriau.com - Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi komponen penting dalam mewujudkan kemandirian fiskal, terutama di era otonomi daerah yang menuntut pemda untuk lebih kreatif menggali potensi ekonomi lokal. Menurut Halim (2014), PAD memberi ruang bagi pemerintah daerah untuk mengoptimalkan sumber daya dalam membiayai pembangunan, meningkatkan layanan publik, dan mengurangi ketergantungan pada pemerintah pusat.

Kabupaten Bengkalis merupakan daerah strategis di Provinsi Riau yang memiliki peluang besar dalam meningkatkan PAD melalui sektor pariwisata dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Keberadaannya di jalur pelayaran internasional Selat Melaka menjadi modal kuat dalam pengembangan wisata bahari, wisata budaya Melayu pesisir, dan ekonomi kreatif masyarakat.

Potensi Wisata dan UMKM Bengkalis

Selat Melaka dikenal sebagai salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia. Posisi ini memberi peluang bagi Bengkalis untuk membangun sektor pariwisata yang berkelanjutan. Keindahan pantai, budaya bahari, kuliner khas, serta kerajinan lokal dapat dikemas sebagai paket wisata berbasis pengalaman.

Produk kreatif seperti olahan hasil laut, makanan tradisional, hingga suvenir khas memiliki potensi besar menjadi penopang ekonomi lokal. Todaro dan Smith (2015) menjelaskan bahwa UMKM merupakan pilar penting pembuka lapangan kerja dan pendorong pertumbuhan ekonomi inklusif. Ketika UMKM terintegrasi dengan pariwisata, rantai nilai (value chain) akan semakin kuat dan berdampak langsung pada peningkatan PAD.

Payung Hukum dan Arah Kebijakan

Pemanfaatan pariwisata dan UMKM selaras dengan amanat UU No. 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang memberikan kewenangan luas bagi daerah dalam mengelola sumber daya. Sementara UU No. 10/2009 tentang Kepariwisataan menegaskan bahwa pembangunan sektor ini harus berlangsung secara sistematis, terpadu, dan berkelanjutan.

Pendekatan Community-Based Tourism (CBT) (Suansri, 2003) menggarisbawahi pentingnya masyarakat sebagai aktor utama dalam pengembangan destinasi. Dalam konteks ini, UMKM bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari ekosistem wisata.

Dukungan pusat juga diperkuat melalui Perpres No. 21/2020 tentang RIPPN, Instruksi Presiden No. 2/2022 tentang percepatan penggunaan produk dalam negeri, serta berbagai kebijakan penguatan UMKM dari Kementerian Koperasi dan UKM.

Tantangan dan Penguatan Ekosistem

Meski memiliki potensi besar, sejumlah destinasi wisata Bengkalis masih kekurangan fasilitas pendukung seperti kios UMKM, pusat kuliner, sentra suvenir, serta infrastruktur digital. Sinergi antara OPD seperti Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan UMKM, serta Badan Pendapatan Daerah juga perlu diperkuat.

Pendekatan sustainable tourism (Inskeep, 1991) dapat menjadi panduan penting agar pengembangan wisata tetap seimbang secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Menuju “Gerbang Wisata Melayu Pesisir”

Dengan memperkuat branding “Gerbang Wisata Melayu Pesisir”, Bengkalis berpeluang menarik lebih banyak wisatawan domestik dan mancanegara. Peningkatan PAD dapat bersumber dari:

• Retribusi objek wisata,
• Pajak restoran, hotel, dan hiburan,
• Izin usaha UMKM pariwisata,
• Transaksi produk kreatif lokal.

Melalui kolaborasi pentahelix - pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media Bengkalis dapat mendorong pariwisata berbasis UMKM sebagai strategi fiskal yang berkelanjutan.

LANDASAN TEORI DAN PERBANDINGAN

A. Paradigma Pengembangan Pariwisata UMKM

Pengembangan pariwisata dan UMKM memiliki legitimasi kuat dari sisi regulasi nasional. UU No. 23/2014 memberikan kewenangan bagi pemerintah daerah untuk membangun ekonomi berbasis potensi lokal. UU No. 10/2009 menegaskan bahwa pariwisata harus dibangun secara sistematis, terpadu, dan berkelanjutan.

Konsep keberlanjutan menurut Inskeep (1991) menekankan keseimbangan antara manfaat ekonomi, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan. Hal ini relevan bagi Bengkalis yang memiliki ekosistem pesisir dan budaya Melayu yang kuat.

Sementara itu, pendekatan Community-Based Tourism (CBT) menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama perencanaan dan pengelolaan wisata. Konsep ini selaras dengan teori Local Economic Development, yang menegaskan peran pemerintah daerah sebagai fasilitator dalam mendorong inovasi ekonomi lokal berbasis UMKM.

B. Teori Ekonomi Lokal dan Peran UMKM dalam Pariwisata

UMKM merupakan pilar strategis pembangunan daerah. Todaro dan Smith (2015) menekankan bahwa UMKM mampu menyerap tenaga kerja secara luas dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi lokal. Dalam rantai nilai pariwisata, UMKM berperan sebagai penyedia kuliner, kerajinan, homestay, transportasi lokal, hingga paket wisata.

Namun di Bengkalis, sejumlah persoalan masih muncul, seperti:

• Minimnya fasilitas pendukung destinasi,
• Belum optimalnya promosi digital,
• Lemahnya kolaborasi antar-OPD.

Menurut teori Collaborative Governance (Ansell & Gash, 2008), kolaborasi lintas sektor menjadi penting untuk memastikan potensi pariwisata-UMKM dapat termanfaatkan optimal.

C. Strategi Peningkatan PAD Berbasis Teori dan Kebijakan

1. Pengembangan Produk dan Daya Tarik Wisata. Mengacu pada Tourism Product Lifecycle (Butler, 1980), destinasi harus terus diperbarui. Bengkalis dapat mengembangkan wisata bahari, mangrove, budaya Melayu, kuliner, dan kerajinan tradisional.

2. Pemberdayaan UMKM. Berbasis teori Empowerment (Zimmerman, 2000), pemerintah dapat menguatkan UMKM melalui pelatihan, sertifikasi produk, akses permodalan, pembangunan kios wisata, serta digitalisasi pemasaran.

3. Penguatan Infrastruktur Pariwisata. Inskeep (1991) menekankan pentingnya akses jalan, dermaga, fasilitas publik, ruang terbuka, sentra suvenir, dan transportasi wisata.

4. Promosi dan Pemasaran Digital. Strategi ini meliputi penguatan media sosial, website pariwisata, kolaborasi dengan influencer, dan penyelenggaraan festival budaya.

5. Kolaborasi Pentahelix. Setiap aktor memiliki peran strategis untuk mempercepat pertumbuhan pariwisata dan kontribusi PAD.

6. Optimalisasi Instrumen PAD. Peningkatan PAD dilakukan melalui retribusi, pajak restoran dan hotel, pajak hiburan, serta izin usaha UMKM yang dikelola secara transparan.

A. Kesimpulan
Strategi peningkatan PAD Kabupaten Bengkalis melalui pariwisata berbasis UMKM merupakan langkah realistis dan strategis yang didukung potensi geografis, kekayaan budaya, dan regulasi nasional. Integrasi UMKM ke dalam sektor wisata dapat memperkuat rantai nilai ekonomi lokal dan berkontribusi langsung terhadap PAD.

Secara teoretis, strategi ini sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan, Community-Based Tourism, dan pembangunan ekonomi daerah. Dengan memperkuat kolaborasi pentahelix dan pengelolaan ekosistem wisata secara terpadu, Bengkalis memiliki peluang besar meningkatkan kemandirian fiskal dan kesejahteraan masyarakat berbasis potensi lokal.**


Komentar Via Facebook :

Berita Terkait :