https://www.pjsriau.com

Berita > Daerah > Pekanbaru

BEDELAU 2025: BI Riau Perkuat Sinergi dan Transformasi Ekonomi Berbasis Sawit Rakyat

BEDELAU 2025: BI Riau Perkuat Sinergi dan Transformasi Ekonomi Berbasis Sawit Rakyat

Teks foto: Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau, Dr. Panji Achmad, bersama jajaran Forkopimda, perwakilan pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha berfoto bersama usai pembukaan kegiatan Bincang Ekonomi dan Diseminasi Dukung Akselerasi Ekonomi Riau (BEDELAU) 2025 di Hotel Pangeran Pekanbaru


Pekanbaru, Pjsriau.com – Pemerintah Pusat dalam berbagai arahannya terus menekankan pentingnya percepatan pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Dalam konteks transformasi ekonomi, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci—melibatkan seluruh unsur bangsa, dari tingkat pusat hingga daerah.

Pada Triwulan II 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,12% (yoy), di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi domestik yang solid, meningkatnya investasi dan ekspor, serta aktivitas dunia usaha yang terus ekspansif.

Sejalan dengan capaian nasional, Provinsi Riau juga menunjukkan kinerja ekonomi yang positif. Berdasarkan data BPS, ekonomi Riau tumbuh 4,59% (yoy), sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 4,65% (yoy). Meski demikian, Riau tetap menjadi provinsi dengan PDRB ADHB terbesar ke-6 di Indonesia atau ke-2 di luar Pulau Jawa, berkontribusi sebesar 4,98% terhadap ekonomi nasional.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau, Dr. Panji Achmad, mengungkapkan bahwa kinerja positif ekonomi Riau ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang terjaga, investasi yang terus tumbuh, serta ekspor luar negeri yang solid. Sektor-sektor unggulan seperti industri pengolahan, pertanian, dan pertambangan masih menjadi motor utama, terutama melalui komoditas kelapa sawit, minyak bumi, serta industri bubur kayu dan kertas.

Dari sisi inflasi, BPS mencatat inflasi Provinsi Riau pada September 2025 sebesar 1,11% (mtm) atau 5,08% (yoy)—lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 1,82% (yoy). Meski demikian, Bank Indonesia optimistis inflasi Riau akan tetap terkendali dalam rentang sasaran nasional 2,5% ± 1% (yoy). Hal ini didukung oleh sinergi kuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Riau melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di bawah koordinasi Gubernur Riau.

Dari sisi stabilitas sistem keuangan, intermediasi perbankan di Riau masih menunjukkan kinerja kuat. Penyaluran kredit kepada korporasi meningkat seiring kemampuan bayar yang tetap terjaga. Kredit rumah tangga juga tumbuh positif, meski sedikit melambat. Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 79,46%, menandakan likuiditas perbankan masih cukup longgar untuk mendorong penyaluran kredit yang lebih tinggi.

Sementara itu, aliran uang tunai di Bank Indonesia Provinsi Riau pada triwulan II 2025 menunjukkan posisi net-outflow Rp860,37 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya Rp3,34 triliun. Aktivitas transaksi non-tunai juga meningkat, terutama melalui SKNBI, BI-RTGS, kartu kredit, uang elektronik, dan QRIS, menandakan digitalisasi ekonomi semakin kuat di Riau.

Secara keseluruhan, perekonomian Riau tahun 2025 diperkirakan tumbuh antara 4,19–4,85% (yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 yang tumbuh 3,52% (yoy). Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kinerja net ekspor luar negeri, meski tetap dihadapkan pada risiko disrupsi perdagangan global dan ketegangan geopolitik.

Dari sisi harga, inflasi Riau tahun 2025 diproyeksikan tetap terkendali dalam kisaran 2,5% ± 1% (yoy), didukung oleh penguatan produksi pangan, peningkatan efisiensi pascapanen, serta optimalisasi program pertanian dan hilirisasi. Pemerintah juga menjaga kestabilan harga melalui pengendalian tarif listrik, angkutan udara, dan tarif parkir.

Meski demikian, BI tetap mencermati potensi risiko dari kenaikan UMP Riau 6,5%, penyesuaian harga BBM non-subsidi, serta dampak bencana alam dan ketegangan geopolitik yang dapat memicu tekanan inflasi.

Dalam rangka memperkuat sinergi kebijakan dan mendorong transformasi ekonomi daerah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau menggelar kegiatan BEDELAU 2025 (Bincang Ekonomi dan Diseminasi Dukung Akselerasi Ekonomi Riau), bertema “Strategi Peningkatan Produktivitas Perkebunan Sawit Rakyat (PSR) sebagai Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Riau dan Nasional.”

Kegiatan yang digelar di Hotel Pangeran Pekanbaru, Selasa (21/10/2025) ini merupakan hasil kolaborasi BI Riau dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Kajian bersama tersebut bertujuan memperkuat peran sektor perkebunan, khususnya Perkebunan Sawit Rakyat, sebagai penggerak utama ekonomi Riau.

Melalui kajian ini, BI Riau menyusun rekomendasi kebijakan konkret bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan produktivitas sawit rakyat, mempercepat hilirisasi komoditas, serta memperkuat daya saing ekonomi Riau di tingkat nasional dan global.

BEDELAU 2025 menghadirkan narasumber nasional, yaitu Prof. Bayu Krisnamurthi, M.S. (Guru Besar Agribisnis IPB) dan Prof. Dr. Adi Sulistiyono, S.H., M.H. (Guru Besar Hukum Ekonomi Universitas Sebelas Maret).

Melalui forum ini, Bank Indonesia Riau menegaskan komitmennya sebagai mitra strategis pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha untuk memperkuat fondasi ekonomi yang inklusif, tangguh, dan adaptif terhadap tantangan global.**


Komentar Via Facebook :

Berita Terkait :