Berita > Daerah > Bengkalis
Idul Fitri 144 H/2025: Warga Merawat Tradisi Baraan di Dusun Mekarsari Desa Muntai Kec Bantan-Bengkalis
Ket foto; Sesi foto bersama Warga Merawat Tradisi Baraan di Dusun Mekarsari Desa Muntai
Muntai (Bantan), Bengkalis, Pjsriau.com - Tradisi rombongan ini masih terawat hingga hari ini. Warga Pulau Bengkalis secara berkelompok bersilaturahmi dari rumah warga satu ke rumah warga lainnya.
Hal ini dilakukan seperti oleh warga Dusun Mekarsari Desa Muntai Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis. Di sini, Baraan berasal dari Jamaah Mushollah Al - Muflihun dusun Mekarsari. Warga yang tergabung dalam Baraan ini jumlahnya ratusan orang, baik dari kelompok muda maupun yang tua termasuk ibu-ibu.
Tidak hanya menyambangi rumah para jamaah yang tergabung, mereka juga memanjatkan doa untuk tuan rumah serta mendoakan keluarga dari rumah yang dikunjungi yang telah meninggal dunia.
Selesai ber tahlil dan berdoa, jamaah menikmati makanan yang disiapkan pemilik rumah. Senda gurau pun mewarnai suasana dalam rombongan tersebut.
"Ini adalah tradisi di tempat kami yang secara konsisten terus kami lestarikan. Bukan hanya sekadar merayakan Lebaran, rombongan ini memiliki arti tersendiri, yakni menjaga silaturahmi dan persatuan antar warga," ucap yang dipimpin oleh Kepala Dusun Mekarsari Azman S.pdi sekaligus mewakili kepala desa Muntai, Muhammad Nurin. Jumat (4/3/2025).
Menurut kepala Dusun, Tradisi Baraan atau yang biasa disebut warga Pulau Bengkalis sebagai rombongan adalah tradisi yang masih terus dilestarikan setiap momentum Lebaran Idul Fitri.
"Baraan Mushollah Al - Muflihun dusun Mekarsari biasanya berlangsung selama tiga hingga empat hari Lebaran dan sampai hari ini masih berlangsung, ini dikarenakan ada salah satu warga meninggal dunia di Baraan pertama dihari lebaran kedua, jadi, menambah hari kita Baraan, seharusnya hari Kamis sudah selesai Baraan kita," terang Kepala Dusun Mekarsari Azman.
Sementara itu, Ustadz Drs. H. Rajab Selamat, M.A. turut menyampaikan pandangannya terkait pelaksanaan tradisi ini. Ia menyambut baik semangat warga dalam menjaga warisan budaya, namun juga menekankan perlunya penyempurnaan dari sisi syiar Islam.
"Ada beberapa perkara yang perlu diperbaiki dari sudut agama. Menurut saya, dari sisi syiar, sebaiknya saat azan Ashar dikumandangkan, kegiatan Baraan dihentikan sementara untuk memberi waktu menjalankan ibadah, kemudian dilanjutkan kembali setelahnya," ungkapnya.
"Lebih lanjut, ia menilai pelestarian budaya lokal seperti pakaian adat dan hidangan tradisional juga penting dijaga. “Pakaian adat Melayu itu adalah warisan, begitu juga dengan kue-kue tradisional. Jangan sampai tergeser oleh kue-kue modern".
Dalam pesannya kepada generasi muda, Ustadz Rajab menaruh harapan besar agar para pemuda mulai mengambil peran lebih dalam kegiatan keagamaan dan adat di masyarakat. Ia menyampaikan bahwa para pemuda adalah penerus tradisi dan harus lebih aktif tampil di garda depan.
“Kalau di Masjid dan Mushola atau surau, saya sangat ingin pemuda - pemuda ini berada di depan. Karena saya sudah tua, dan saya berharap merekalah yang akan menggantikan kami di masa mendatang,” tuturnya.
Menutup pernyataannya, Ustadz Rajab mengingatkan bahwa semangat Ramadan dan Idulfitri seharusnya tidak hanya menjadi seremonial tahunan, tapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. “Yang paling utama, saya berharap Ramadan dan Idulfitri ini menjadikan kita pribadi yang lebih bertakwa,” katanya dengan nada penuh harapan.**(Red).

Komentar Via Facebook :